Keindahan arsitektur sering menjadi kesan pertama sebuah masjid. Kubah megah, ornamen indah, dan ruang yang lapang kerap memikat mata. Namun, di balik kemegahan visual itu, ada satu unsur yang tak kalah menentukan kualitas sebuah masjid sebagai ruang ibadah dan dakwah, yakni kejernihan tata suaranya.
Pandangan ini disuarakan oleh Eep S. Maqdir, praktisi dan konsultan akustik serta sound system masjid. Lahir di Garut pada tahun 1972, Eep merupakan alumnus Fisika Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan konsentrasi elektronika, instrumentasi, dan akustik bangunan. Sejak pertengahan 1990-an ia telah menekuni dunia audio, mulai dari home audio, home theater, hingga ruang musik. Namun sejak 2019, perhatiannya semakin terfokus pada satu isu yang ia anggap krusial bagi umat, yaitu penataan sound system masjid. Dalam berbagai forum dan praktik lapangan, ia lebih akrab disapa Kang Eep.
Bagi Kang Eep, suara bukan sekadar pelengkap. Masjid adalah ruang percakapan publik tempat pesan keagamaan disampaikan secara langsung kepada jamaah, sehingga ketika suara tidak jelas, artikulasi kabur, atau gaung berlebihan, pesan dakwah berisiko tidak tersampaikan dengan utuh. Karena itu, penataan sound system masjid menjadi isu penting yang kerap luput dari perhatian, meskipun sound system masjid seharusnya masuk ke kategori audio profesional sejajar dengan sistem tata suara pertunjukan langsung.
Harmonisasi Estetis dan Teknis untuk Suara yang Lebih Eksis
Tata suara masjid pada hakikatnya merupakan gabungan antara akustik ruang dan perangkat elektronik. Akustik berkaitan dengan fisika bangunan, yaitu bagaimana bentuk ruang, volume, dan material memengaruhi perilaku bunyi, sementara perangkat elektronik berfungsi menyuarakan ulang sumber suara agar terdengar jelas, merata, dan terkontrol oleh seluruh jamaah. Karena fungsinya bukan menciptakan suara baru, melainkan memperkuat dan mendistribusikan suara, sistem ini lebih tepat disebut sebagai sound reinforcement, yang dalam praktik penataan masjid modern dipahami sebagai harmonisasi antara estetika dan teknis agar kualitas suara tidak hanya terdengar, tetapi benar-benar hadir dan eksis sebagai bagian dari pengalaman ibadah.
Kejernihan Percakapan sebagai Inti Tata Suara Masjid
Dalam konteks masjid, Kang Eep menegaskan bahwa parameter terpenting bukanlah kekuatan suara atau efek musikal, melainkan kejernihan percakapan atau speech intelligibility. Pada khutbah, kajian, diskusi, maupun shalat berjamaah, suara imam atau khatib harus sampai ke jamaah dengan artikulasi yang utuh. Suara yang terlalu bergema, echo yang saling bertumpuk, atau distribusi energi suara yang tidak merata akan membuat jamaah kehilangan fokus. Alih-alih khusyuk, jamaah justru sibuk berkonsentrasi untuk menangkap apa yang diucapkan. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mengganggu kualitas dakwah itu sendiri.
Empat Fungsi Utama Sound System Masjid
Ada empat fungsi utama sound system masjid yang menurut Kang Eep menjadi fondasi penataannya:
- Suara harus datang dari arah kiblat, sehingga pendengaran jamaah secara naluriah menghadap ke kiblat, mengikuti arah imam dan khatib.
- Semua jamaah harus mendengar suara dengan level dan energi yang relatif sama, dari saf depan hingga saf paling belakang.
- Informasi harus dapat disampaikan dengan jelas dan mudah dipahami, tanpa jamaah harus menebak-nebak atau mengulang dalam pikiran.
- Menghadirkan rasa audial khas masjid, yaitu kesan megah dan khusyuk, dengan gaung yang terkontrol, tidak berlebihan, namun juga tidak mati seperti ruang studio rekaman.
Keempat fungsi ini, menurut Kang Eep, menegaskan bahwa masjid bukan ruang konser dan bukan pula ruang kedap total. Masjid memiliki karakter akustik tersendiri yang harus dijaga, bukan dihilangkan.
Masalah Umum Tata Suara Masjid
Di lapangan, Kang Eep menemukan persoalan sound system masjid umumnya berulang pada pola yang sama. Gaung yang terlalu panjang membuat kata-kata saling membaur. Flutter echo yang tidak terkontrol menciptakan suara bergetar dan melelahkan telinga. Distribusi energi suara yang tidak merata menyebabkan sebagian jamaah merasa terlalu keras, sementara yang lain justru kesulitan mendengar. Belum lagi persoalan tingkat kekerasan suara yang sering kali bergantung pada selera personal.
Secara teknis, Kang Eep merumuskan bahwa kualitas sound system masjid ditentukan oleh empat faktor utama:
- Akustik ruangan
- Pemilihan peralatan sound system
- Penempatan dan arah loudspeaker
- Pengaturan atau setting sound system
Dari keempat faktor tersebut, akustik ruangan kerap menjadi sumber persoalan paling mendasar. Banyak masjid dibangun dengan material keras seperti marmer, granit, kaca, dan beton demi kesan mewah dan monumental. Namun material-material ini bersifat sangat memantulkan bunyi. Tanpa penataan akustik yang tepat, suara akan berputar-putar di dalam ruang dan merusak kejernihan percakapan.
Revolusi Tata Suara Masjid: Naik Kelas, Tidak Asal Bunyi Lagi
Revolusi pertama adalah penataan akustik ruangan masjid. Idealnya, hal ini sudah dilakukan sejak tahap perencanaan pembangunan masjid. Namun jika masjid terlanjur dibangun dan kondisi akustiknya tidak mendukung, maka diperlukan upaya perbaikan akustik. Cara ini umumnya menghadapi berbagai kendala, mulai dari keterbatasan teknis hingga biaya yang lebih mahal, serta hasil yang tidak selalu optimal. Meski demikian, penataan akustik tetap membutuhkan perencanaan dan biaya karena dampaknya sangat signifikan terhadap kejernihan suara.
Revolusi kedua adalah penggunaan perangkat audio profesional, bukan semacam home audio atau car audio. Perangkat audio profesional dirancang untuk kebutuhan siaran langsung, memiliki headroom yang memadai, kestabilan kerja yang tinggi, serta fitur pengolahan sinyal yang memungkinkan kontrol suara secara presisi dan konsisten di ruang masjid yang besar. Berbeda dengan audio rumahan atau car audio yang berorientasi pada reproduksi musik atau playback, audio profesional ditujukan untuk memperkuat percakapan dan suara manusia secara langsung, akurat, dan aman dari gangguan seperti feedback.
Revolusi ketiga adalah penempatan dan pengarahan loudspeaker secara tepat. Pengeras suara tidak ditempatkan sekadar agar terlihat rapi atau mengikuti estetika visual, melainkan harus diposisikan pada titik-titik yang paling efektif untuk mendistribusikan suara percakapan secara merata ke seluruh ruang masjid. Arah loudspeaker harus dikendalikan agar energi suara fokus ke jamaah, bukan memantul berlebihan ke dinding atau kubah. Untuk imam dan khatib, penggunaan monitor loudspeaker menjadi penting agar mereka dapat mendengar dan mengontrol suaranya sendiri tanpa harus memaksakan volume.
Revolusi keempat adalah penataan dan pengaturan sound system yang mengikuti standar masjid sebagai ruang percakapan atau ruang ujar. Pengaturan suara tidak lagi bertumpu pada pendengaran semata atau selera personal, melainkan mengacu pada standar teknis yang sesuai dengan fungsi masjid sebagai ruang komunikasi verbal. Alat ukur digunakan untuk mendeteksi kondisi akustik dan performa sistem secara lebih presisi dan objektif, sehingga hasil penataan dapat dipertanggungjawabkan dan konsisten bagi seluruh jamaah.
Sound System Masjid dan Masa Depan Dakwah
Di era modern, sound system masjid bukan lagi sekadar urusan teknis. Ia berkaitan langsung dengan kualitas dakwah, kenyamanan jamaah, dan citra masjid sebagai pusat peradaban umat. Penataan suara yang baik membantu menghadirkan suasana khusyuk, memperkuat pesan keagamaan, dan menjaga marwah masjid sebagai ruang bersama.
Melalui pengalaman dan gagasan yang terus ia suarakan, Kang Eep menempatkan sound system masjid bukan sekadar sebagai alat pengeras suara, melainkan jembatan antara pesan dakwah dan hati jamaah.
Catatan:
Eep S. Maqdir dapat dihubungi di nomor WA: 0813-3010-3010























